About Author

Most Commented Posts

Most Views Posts

Find us on
Recent tweet
  • RT @PolJokesID: https://t.co/aFfTSpfz80
  • @abriany_ @diahfanny Woooowww 😲😲😲 lanjut PM yaah 🤭🤭
  • RT @KompasKlasika: Butuh inspirasi memotret? Ikuti Workshop Fotografi Kompas “Mata Waktu Java Jazz 2020”, Kamis (27/2/2020) di Kompas Insti…
  • RT @kompasmuda: Bagaimana serunya momen #SuperShow8inJakarta bersama @elfindonesiacom? Ini dia hasil liputan #VolunterKompasMuda. @SJoffici…

Cerita Mahasiswa : Di Tepi Sungai Targus

Tahun ini adalah tahun keduaku menempuh pendidikan di Eropa. Kali ini aku pindah ke kota yang dibelah oleh sebuah sungai bernama sungai Targus. Tahukah kalian dimana sungai itu berada? Yap..Lisboa a.k.a Lisbon, ibu kota Portugal. Aku yakin masih banyak teman-teman yang belum tahu dimana sungai Targus itu berada, bahkan mungkin banyak yang belum tahu tentang Lisbon. Well, jika belum tahu tentang Lisbon, tapi paling tidak, kalian tahu doong, Christiano Ronaldo dari mana? Atau penulis buku “Pilgrim” dan “Di tepi sungai Piedra aku duduk dan menangis” alias Paulo Coelho berasal? Kota ini kurang begitu terkenal sebagai kota tujuan wisata maupun pendidikan di Indonesia. Banyak lelucon di internet yang menggambarkan bahwa Portugal itu adalah Spanyol. Padahal ada beberapa aspek yang membuat kota ini layak dipertimbangkan untuk sekadar jalan-jalan ataupun tempat belajar. Beberapa akan kuceritakan disini.

Pertama kali aku tahu bahwa Lisbon akan menjadi kota tujuan belajarku selanjutnya, maka aku langsung hunting informasi tentang kota ini. Informasi yang kuterima terdengar sangat menjanjikan. Lisbon adalah kota yang murah dan penduduk yang “ramah”. Dan ternyata benar adanya!!! Murah karena dibandingkan dengan kota lain yang pernah kutinggali selanjutnya (dalam hal ini, Paris, which is, you know how expensive that city is), biaya hidup di Lisbon jauh lebih murah. Untuk akomodasi, ada banyak pilihan tempat tinggal, mulai dari student resident hingga private apartement dengan kisaran harga minimal 190-200 an untuk student resident. Private apartement lebih bervariasi tergantung lokasi dan fasilitas. Untuk mendapatkan tempat tinggal ini, di sini relatif lebih mudah karena tidak memerlukan penjamin maupun uang jaminan.

Tentang makanan. Satu hal yang menyenangkan tinggal di Lisbon adalah di sini beras lebih mudah ditemukan dan lebih murah. Satu liter beras Thailand bisa dibeli seharga 0.85 Euro an saja di supermarket-supermarket terdekat dan tidak harus beli di toko Asia. Hal ini dikarenakan kulier Portugal juga menggunakan nasi sebagai salah satu bahan makanan utama. Bahan-bahan makanan maupun makanan jadi juga relatif murah. Terakhir aku makan bersama teman-teman di sebuah restoran Asia di kawasan wisata Belem, makan nasi lengkap plus minum tanpa dessert tiap orang kena 7 Euro. Kuliner Portugal juga banyak yang cocok di lidahku termasuk juga snack-snack nya. Mungkin karena Portugal mempunyai ikatan sejarah yang erat dengan Indonesia, maka dari segi kuliner juga terasa dekat. Disini aku bisa menemukan makanan semacam gorengan ala-ala risoles dan kroket. Sesuatuh banget deh pokoknya.

Walaupun tinggal di ibukota sebuah negara, tinggal di Lisbon ini juga masih sangat nyaman untuk belajar. Kotanya tenang dan tidak padat dengan turis. Turis? Yesss..turis. Banyak juga sih turis di sini, tetapi menurutku masih asik aja karena tidak berkesan padat. Turis biasanya terkonsentrasi di daerah-daerah wisata saja. Maklum aku asli cah ndeso jadi ramai sedikit saja sudah pusing (haduuh malah curcol). Kalau masalah macet, Lisbon juga akan macet di titik-titik tertentu di jam-jam padat, pagi dan sore, itupun tidak parah-parah banget macetnya. Alhamdulilah selama di sini sudah mantan-an dengan namanya macet, karena jarang naik moda trasnportasi, mostly jalan kaki. Untuk penyuka olahraga lari (walking, running, jogging) , aktifitas tersebut bisa menjadi hiking di Lisbon. Struktur kota di Lisbon adalah berbukit-bukit, sehingga jalanannya penuh dengan tanjakan dan turunan. Tak jarang tanjakannya sangat curam dan menantang. Jika dibandingkan, aku melihat Lisbon ini seperti Semarang, ibukota Jawa Tengah. Berbukit-bukit gitu deh.

Cuaca di Lisbon juga nyaman looh, tulisan ini dibuat ketika aku belum merasakan musim panas. Di musim dingin pun, matahari masih bersinar cerah dan cuacanya tergolong masih hangat. Sedikit spoiler, di Lisbon tidak turun salju di musim dingin. Tapi tidak usah kuatir, jika ingin main-main salju,tinggal pergi ke daerah pegunungan di perbatasan Spanyol,disana kalian bisa main salju. Cuaca cerah ini erat kaitannya dengan mood dan semangat. DI kala hari mendung, cloudy dan gloomy, bawaanya mungkin bete dan tidak mood. Tapi kalau cuaca cerah dan sinar matahari melimpah, tentu sebuah energi lebih untuk terus produktif berkarya.

Hal-hal itulah yang kutemui di kota ini. Sebuah kota tua yang menggeliat dari krisis supaya tetap eksis. Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman yang kurasakan, mungkin teman-teman lain akan punya pendapat berbeda. Naaah tunggu apalagi? Main ke Lisbon yuuk.

Nucke Widowati

Leave a ReplyYour email is safe with us.